Pagi itu, aku terbangun dengan sangat lemas. Aku sama sekali tidak mempunyai gairah untuk menjalani hari ini. Aku masih teringat dengan pertengkaran kita semalam. Kita bertengkar hebat, kamu mempertahankan pilihan mu dan aku tetap bersikeras untuk membela diriku. Tidak ada yang mau mengalah, kita tetap dengan ego kita masing-masing. Sampai pada akhirnya pertengkaran itu berakhir ketika aku menutup telphone dengan penuh kekesalan. Dan penyesalan ...
Dan ketika aku mengecek handphone ku, berharap kamu meminta maaf atau sekadar mengucapkan "Good Morning" untuk ku, ternyata hasilnya nihil. Dan itu membuatku semakin ingin kembali tidur dan berharap pertengkaran yang semalam hanyalah mimpi burukku. Atau berharap aku tidak akan pernah terbangun lagi karena harus menghadapi kenyataan bahwa aku sedang bertengkar dengan mu. Aku sangat tidak suka ketika kita sedang bertengkar. Karena itu berarti tidak ada kesempatan untuk ku bermanja-manja dengan mu dan aku harus berpura-pura menunjukkan bahwa aku tidak terlalu mengharapkan mu, tidak terlalu membutuhkan mu. Argh ! Aku sangat benci akan kepura-puraan itu !
Tiba-tiba saja handphone ku berdering dan aku sungguh senang ketika mengetahui siapa yang sedang menghubungi ku ! Akhirnya kamu menghubungi ku !
"Aku mau ketemu sama kamu. Nanti siang setelah pulang sekolah." Jeez ! Nafas ku tertahan ketika suara mu terdengar di telinga ku. Tidak ada ucapan selamat pagi yang biasa kamu berikan untuk mengawali hari-hari kita. Kamu tidak menanyakan keadaan ku sehabis pertengakaran kita. Kamu tidak membahasnya. Bahkan, kamu tidak mengucapkan kata "Maaf". Tiba-tiba saja perasaan ku menjadi tidak enak.
"Hallo ?"
"Ha ? Ya. Dimana ?"
"Di tempat biasa kita bertemu."
"Baiklah."
Pembicaraan singkat dan tidak seperti biasanya itu pun berakhir. Bahkan kamu tidak menawarkan diri untuk menjemput ku ! Tidak seperti biasa. Perhatian kecil mu ........ entah kemana. Mungkinkah ini karena pertengkaran semalam ?
Aku segera bersiap untuk ke sekolah. Tida sabar untuk mengakhiri pelajaran hari ini dan segera bertemu dengan mu.
Ketika pulang sekolah, aku langsung pergi ke tempat biasa kita bertemu. Tidak ku pedulikan teman-teman ku yang sepertinya sangat terheran-heran melihat ku langsung pulang dan tidak menghabiskan waktu untuk bermain sesaat seperti biasa. Aku tidak peduli. Yang aku inginkan sekarang adalah bertemu dengan mu setelah pertengkaran kita semalam.
Ketika sampai ditempat itu aku belum menemukan mu. Aku pun memutuskan untuk menunggu.
5 menit. 30 menit. 1 jam. Kemana kamu? Apakah kamu lupa dengan janji yang kamu buat? Apa kamu berpikir 2 kali untuk pertemuan kita dan memutuskan untuk tidak menemui ku? Dan, ketika banyak sekali pikiran buruk yang ada di benakku, tiba-tiba dari arah pintu masuk aku menemukan sosok mu. Masih mengenakan seragam sekolah mu, kamu terlihat sangat tampan. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Mata indah mu tidak memancarkan cahaya seperti biasa. Perasaan ku semakin sesak.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu terlalu lama."
"Ha-ha. Kamu masih ingat mengucap kata "Maaf" rupanya ? Kenapa tidak untuk pertengkaran semalam saja ?"
"Tolong. Aku sudah tidak ingin lagi bertengkar dengan mu."
Aku terdiam. Tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Dia tampak lebih diam dari biasanya.
"Ada apa ?", aku berusaha untuk memecah keheningan.
"Aku ingin kamu mengakhiri hubungan kita." JEEZZ!
Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari bibirnya. Apa dia mengucapkan itu dengan sadar? Apa yang sedang ada didalam pikirannya. Kita sudah pernah mengalami pertengkaran yang lebih hebat dari semalam, namun kita bisa melewatinya dan bertahan sampai detik ini.
"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti mu. Aku lelah dengan hubungan kita yang hanya penuh pertengkaran. Semalam, aku hanya ingin kamu mengerti aku dan dapat memahami keputusan ku."
Mata ku mulai terasa panas. Aku masih ingat jelas. Semalam dia mengatakan kepada ku bahwa dia harus mengakhiri hubungan kami dengan alasan dia lelah bila hubungan kami terus ditutup-tutupi. Ya. Kami backstreet. Kedua orangtua ku tidak setuju bila aku memiliki hubungan dengannya. Jangankan sebagai pacar, orangtua ku menganggap dia bukanlah teman yang baik untuk ku. Tapi, kami sudah pernah membahas ini sebelumnya. Dan dia memutuskan untuk tetap bertahan. Karena kami percaya, suatu saat nanti orangtua ku pasti akan menyetujui hubungan kami.
Aku sudah mulai tidak tahan lagi. Pandangan ku mulai buram. Aku tidak dapat menahan tangis ku. Namun, aku berharap dia tidak terlalu memperhatikan air mata ku yang sudah mulai menetes sedikit.
"Jujur. Aku masih sangat menyayangi mu. Kamu tahu itu. Tapi, aku tidak bisa terus begini. Aku lelah dengan hubungan yang terus ditutupi. Aku tidak mau kita lebih tersakiti bila pada akhirnya kedua orangtua mu tetap bersikeras tidak menyetujui hubungan kita. Bagaimana pun juga, mereka adalah kedua orangtua mu. Mereka yang telah membesarkan mu hingga saat ini. Mereka yang telah mengajarkan mu kasih sayang sehingga kamu dapat menyayangi ku dengan tulus. Mereka yang telah bertanggung jawab atas mu sampai detik ini. Aku tidak ingin kamu menyesali keputusan mu karena telah lebih memilih aku. Mereka benar, aku tidak cukup baik untuk mu. Aku hanya bisa membuat mu menangis, menunggu dalam penuh ketidakpastian, menyakiti mu. Tanpa mereka, mungkin kamu tidak akan pernah ada. Dan aku tidak pernah bisa mengerti apa arti sayang sesungguhnya."
Mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya. Aku semakin ingin menangis. Aku dapat mendengar jelas dari suaranya bahwa dia juga sangat menyesali perkataannya. Dia merasa tertekan, tidak tahan. Ini adalah hal yang paling aku takutkan. Aku takut bila dia mulai tidak tahan dan memutuskan untuk melepaskan ku.
ku menyayanginya ! Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku memang menyayangi orangtua ku, tp, sebagian besar pengisi hari ku adalah dia. Kedua orangtua ku terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tapi dia memberikan ku perhatian lebih, dia ada disaat aku sedang sangat merasa tidak kuat. Aku tidak ingin kehilangan dia. Ku mohon, jangan lepaskan aku. Aku tidak dapat menahan rasa sedih ku.
Aku menangis.
"Hey. Aku mohon. Jangan menangis, sayang. Aku tidak ingin melihat mu bersedih. Aku tidak ingin melihatmu menangis."
Suara lembutnya yang biasa menenangkan ku, kini seperti mengatakan kepada ku bahwa itu adalah saat terakhir kalinya aku mendengar suara lembut darinya.
Dia menarikku ke dalam pelukkan nya. Aku semakin tidak tahan. Pelukan itu seakan-akan adalah pelukan perpisahan darinya.
Pelukan hangat ini ............
Aku tidak ingin kehilangan dia, Tuhan. Aku membenamkan wajah ku di dada nya. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Aku sangat menyayangi mu. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku mohon, Nil, jangan pernah lepaskan aku. Jangan pernah meninggalkan aku. Apa pun alasan kamu. Aku masih sangat membutuhkan mu. Aku butuh kamu untuk terus menemani ku. Aku tidak pernah ingin melepaskan mu. Kamu hanya satu di dunia ini. Hanya satu cowok yang bisa bikin aku nangis, senang, sedih, tertawa, mengerti aku, dan membuat ku menyayangi dengan tulus. Dan itu adalah kamu. Aku mohon .........."
Aku tidak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan dia bahwa aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia!
Dia mengelus kepala ku. Dan mulai menenangkan ku. Mengeratkan pelukannya. Namun, itu semua tidak membuat ku merasa tenang. Aku masih tidak bisa mempercayai semua ini !
"Dengarkan aku, Vel. Aku juga tidak pernah ingin untuk melepaskan mu. Tapi, aku juga tidak ingin kita lebih jauh lagi dan kita akan tersakiti lebih dalam lagi lebih dari saat ini. Aku tahu kamu sudah cukup dewasa untuk memikirkan semua. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Aku akan selalu ada untuk mu. Kapan pun kamu membutuhkan ku, aku akan selalu ada untuk mu. Percaya pada ku, kamu bisa menemukan yang jauh lebih baik dari ku. Aku bukan lah orang yang tepat untuk mu. Aku hanyalah seseorang yang mengajarkan mu bahwa di depan sana kamu masih akan menemukan yang lebih dari apa yang saat ini kamu temukan. Kebahagiaan mu, rasa sakit mu. Mungkin aku hanya bisa menambah rasa sakit mu. Kamu bisa menemukan kebahagiaan mu, Vel. Tapi tidak dengan ku."
Suaranya terdengar seperti suatu bisikkan di telingaku. Apakah dia juga sedang menangis ?
"Tapi, aku tidak ingin kamu pergi sekarang, Nil. Aku mohon, kita pasti masih bisa mempertahankan hubungan ini. Kedua orangtua ku pasti mengerti."
Tidak ada jawaban darinya. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang membasahi rambutku. Ya, pasti dia menangis. Aku masih berada di dalam dekapannya. Aku tidak sanggup bila harus melihatnya menangis. Kami sama-sama menangis. Hening. Tidak ada yang bersuara.
............ bersambung yaa.