Tuesday, August 12, 2014

So Lange.

Tertulis untuk kamu yang disana,
yang sudah berhasil membuat hati ini jatuh untuk kamu,

Aku tidak pandai mengungkap rasa,
karena aku tidak pandai merangkai kata untuk mengungkapnya
Aku tidak pandai menyusun kata menjadi kalimat indah,
karena aku tidak tahu kalimat seperti apa untuk mengungkapnya
Aku tidak pandai untuk memberi mu puisi indah,
karena aku bukan seorang pujangga

Tapi, kamu tidak perlu khawatir,
aku dapat menjanjikan kepada kamu,
aku akan selalu memberikan kamu 
kejujuran.


Baiklah,
percaya atau tidak 
Aku tertawa jika mengingat semuanya.
Aku tersenyum bodoh membayangkan semua yang ada.
Aku tersipu malu melihat kenyataan yang ada sekarang.

Kamu, 
yang pertama aku lihat, aku hanya bisa mengagumi kamu dari jauh.
Kamu siapa aku pun tidak tahu.
Tidak ada rasa spesifik.
Yang ada hanya rasa penasaran.
Di sela waktu yang ada, aku selalu menyempatkan diri untuk mencari mu.

Benar saja,
ternyata sudah ada sosok cantik yang kamu miliki.
saat itu ketika seorang teman bertanya
hanya bisa mengatakan:

,,Sampaikan salam untuk dia yang memiliki rasa sayang untuk wanita paling beruntung karena mendapat kesempatan untuk disayangi oleh lelaki seperti dia."


Aku hanya mampu tertawa menyadari apa yang aku katakan.

Sampai tiba saat dimana aku berterima kasih kepada Sang Waktu.
Karena akhirnya aku bisa berkenalan langsung dengan kamu.
Kamu jauh dari dugaan yang ada.
Kamu sosok yang ramah.
Hati kamu tulus.
Selera humor yang kamu miliki tidak terlalu buruk.
Seketika,
senyum kamu menjadi sesuatu yang ingin terus aku nikmati,
suara dan tawa dari mu menjadi melodi indah favoritku.

Maafkan aku,
sejak saat itu aku selalu memikirkan kamu.
Tidak seharusnya, bukan ?
Maafkan aku yang terlalu egois ingin bisa dekat dengan kamu.
Maafkan aku karna punya rasa disaat yang tidak tepat.

Saat itu aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan,
untuk mengizinkan aku menyimpan rasa yang saat itu hadir.
Aku tidak meminta lebih.

Terima kasih (lagi),
Sang Waktu hadir memberi kesempatan untuk aku bisa mengenal mu lebih jauh.
Kamu ceritakan semua kisah kamu dan dia.
Aku mulai menjalani hari ku bersama kamu.

Seolah-olah Sang Waktu sudah menjadi tahanan kita.
Tanpa disadari, saat ini, aku lah wanita beruntung yang kamu sayangi.

Aku tidak pernah menyangka akan sejauh ini.
Aku tidak pernah memaksa kamu untuk seperti ini.
Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikir mu.
Aku tidak pernah tahu apa alasan kamu.

Namun, aku selalu percaya akan apa yang kamu katakan.
Kamu selalu mengatakan,
kamu tahu apa yang kamu lakukan,
kamu tahu setiap langkah yang kamu jalani,
kamu tahu pilihan yang kamu ambil.

Aku percaya dengan apa yang kamu katakan.

Aku tidak dapat berkata ketika kamu mengungkapkan rasa yang kamu miliki.
Karena untuk aku, ini semua terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Ah entahlah,
terlalu rumit untuk melihat ke belakang.

Sekarang,
aku hanya ingin melihat dan berjalan bersama kamu ke depan.

Tapi, sebelumnya,

Aku mohon,
izinkan aku untuk menyampaikan salam maaf ku untuk dia.




Wednesday, June 25, 2014

Pudar.
Hilang.
Terlupakan.
Tidak pernah ada.

bum.

Hadir.
Kembali.
Teringat.
Ada.

Disini
malam ini.
Kembali duduk didepan layar membuka halaman yang menjadi tempat mengungkap rasa
ya walau pun tidak semua rasa.

entah apalagi yang harus dilakukan.

Rasa itu.
hh
entah apa namanya
Waktu.
rasa itu dan waktu tidak pernah dapat saling bekerjasama.

Tidak. Ini rasa baru.
Tidak.
Rasa baru ini bahkan jauh lebih buruk.

Rasa dimana membuat diri ini merasa buruk.

Maafkan diri ini yang terkadang suka menyakiti.
Tidak. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyakiti.
Justru diri ini hanya tidak ingin membuat suatu jiwa melayang tinggi namun dalam kesemuan.
Kebohongan.

Diri ini hanya mengatakan kebenaran.

Dan mungkin diri ini hanya ingin beristirahat sejenak,
dari segala rasa yang mampu membuatnya merasa populasi kupu-kupu bertambah semakin banyak disekitarnya,
merasa sudah berada dalam zona nyamannya,
merasa sudah bertemu dengan harapannya.

dari segala rasa yang juga mampu menyadarkannya bahwa pertambahan populasi juga dipengaruhi seleksi alam.

Kupu-kupu yang cantik, indah dan mampu mempengaruhinya untuk terbang menyentuh langit tidak mampu bertahan dalam keadaan industri pabrik yang semakin besar.
Kupu-kupu itu tidak dapat lagi bernafas dengan leluasanya.
Harapannnya hancur.

belum siap untuk merasakan bagaimana ditipu oleh keadaan,
zona yang dipandangnya menjadi zona nyaman ternyata hanyalah ruang tunggu untuk membawanya ke dalam zona kenyataan pahit.
Ternyata pada zona nyaman itu diri ini menjadi lemah dan lupa yang namanya perjuangan.
dan ternyata semua harapan yang itu adalah semu.
kesementaraan.

mungkin saja diri ini terlalu lelah merasakan rasa seperti itu

detik demi detik
hari demi hari
waktu demi waktu

Diri ini pikir semua sudah selesai.
Sudah terlupakan.

Salah.

Diri ini menjadi sosok yang entah siapa dia pun tak mengenal.
Begitu mudah mengatakan kebenaran yang dia tahu itu akan menyakiti diri yang lain.
Akan menghancurkan harapan yang dimiliki diri yang lain.

Tidak kah diri ini berpikir bagaimana rasa sakit ketika harapan yang dimiliki dihancurkan ?

Ah salah apa.
Lalu harus bagaimana.

Sudah dibilang, diri ini hanya tidak ingin membiarkan yang lain merasakan rasa yang lain.
Berada dalam zona nyaman yang membuat lemah.
Memberikan harapan semu yang tidak pernah ada.
Tidak.
Pasti nantinya akan membuat diri ini semakin buruk.
Apalagi mereka ini memiliki hati yang terlalu baik.

Jangan.
Jangan sampai terbiasa.



Maaf.