Wednesday, June 25, 2014

Pudar.
Hilang.
Terlupakan.
Tidak pernah ada.

bum.

Hadir.
Kembali.
Teringat.
Ada.

Disini
malam ini.
Kembali duduk didepan layar membuka halaman yang menjadi tempat mengungkap rasa
ya walau pun tidak semua rasa.

entah apalagi yang harus dilakukan.

Rasa itu.
hh
entah apa namanya
Waktu.
rasa itu dan waktu tidak pernah dapat saling bekerjasama.

Tidak. Ini rasa baru.
Tidak.
Rasa baru ini bahkan jauh lebih buruk.

Rasa dimana membuat diri ini merasa buruk.

Maafkan diri ini yang terkadang suka menyakiti.
Tidak. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyakiti.
Justru diri ini hanya tidak ingin membuat suatu jiwa melayang tinggi namun dalam kesemuan.
Kebohongan.

Diri ini hanya mengatakan kebenaran.

Dan mungkin diri ini hanya ingin beristirahat sejenak,
dari segala rasa yang mampu membuatnya merasa populasi kupu-kupu bertambah semakin banyak disekitarnya,
merasa sudah berada dalam zona nyamannya,
merasa sudah bertemu dengan harapannya.

dari segala rasa yang juga mampu menyadarkannya bahwa pertambahan populasi juga dipengaruhi seleksi alam.

Kupu-kupu yang cantik, indah dan mampu mempengaruhinya untuk terbang menyentuh langit tidak mampu bertahan dalam keadaan industri pabrik yang semakin besar.
Kupu-kupu itu tidak dapat lagi bernafas dengan leluasanya.
Harapannnya hancur.

belum siap untuk merasakan bagaimana ditipu oleh keadaan,
zona yang dipandangnya menjadi zona nyaman ternyata hanyalah ruang tunggu untuk membawanya ke dalam zona kenyataan pahit.
Ternyata pada zona nyaman itu diri ini menjadi lemah dan lupa yang namanya perjuangan.
dan ternyata semua harapan yang itu adalah semu.
kesementaraan.

mungkin saja diri ini terlalu lelah merasakan rasa seperti itu

detik demi detik
hari demi hari
waktu demi waktu

Diri ini pikir semua sudah selesai.
Sudah terlupakan.

Salah.

Diri ini menjadi sosok yang entah siapa dia pun tak mengenal.
Begitu mudah mengatakan kebenaran yang dia tahu itu akan menyakiti diri yang lain.
Akan menghancurkan harapan yang dimiliki diri yang lain.

Tidak kah diri ini berpikir bagaimana rasa sakit ketika harapan yang dimiliki dihancurkan ?

Ah salah apa.
Lalu harus bagaimana.

Sudah dibilang, diri ini hanya tidak ingin membiarkan yang lain merasakan rasa yang lain.
Berada dalam zona nyaman yang membuat lemah.
Memberikan harapan semu yang tidak pernah ada.
Tidak.
Pasti nantinya akan membuat diri ini semakin buruk.
Apalagi mereka ini memiliki hati yang terlalu baik.

Jangan.
Jangan sampai terbiasa.



Maaf.