Jakarta.
Macet.
Sibuk.
Ribut.
Penuh.
Ribut.
Penuh.
Panas.
Penat.
Aku rindu terjebak ditengah kemacetan kota Jakarta,
merasa memiliki ruang untuk berpikir sejenak sebelum sampai tujuan,
guna mengulur waktu menuju tempat yang tidak diingini.
Aku rindu keributan kota Jakarta.
Orang-orang sibuk didalamnya,
ya yang sebenarnya kebanyakan dari mereka hanya berusaha mencari kesibukan.
Berusaha mencari sebanyak mungkin kegiatan upaya melupakan kepahitan.
Menjadikan semua itu pelampiasan,
tanpa mereka sadar yang mereka lakukan hanyalah penyiksaan terhadap diri mereka sendiri,
kali ini pembodohan menjadi pilihan favorit. Pembodohan pada diri sendiri.
kali ini pembodohan menjadi pilihan favorit. Pembodohan pada diri sendiri.
Semua berlomba berlari dari kenyataan,
mencapai garis akhir yang semu, hampir tidak ada,
sampai kapan pun tak ada satu pun yang berhasil menjadi pemenang.
Untunglah masih ada kalangan sehat,
yang terus berusaha mengejar mimpi mereka.
Para pemimpin hebat di masa depan.
Berlomba untuk menggapai mimpi,
mengambil aksi dengan berani,
guna mencapai garis akhir yang sudah pasti.
Aku rindu setiap sudut kota Jakarta,
selalu berhasil membuat cerita,
yang sekarang ku sebut kenangan.
Aku rindu mereka yang ada di Jakarta,
keluarga dan sahabat.
mencapai garis akhir yang semu, hampir tidak ada,
sampai kapan pun tak ada satu pun yang berhasil menjadi pemenang.
Untunglah masih ada kalangan sehat,
yang terus berusaha mengejar mimpi mereka.
Para pemimpin hebat di masa depan.
Berlomba untuk menggapai mimpi,
mengambil aksi dengan berani,
guna mencapai garis akhir yang sudah pasti.
Aku rindu setiap sudut kota Jakarta,
selalu berhasil membuat cerita,
yang sekarang ku sebut kenangan.
Aku rindu mereka yang ada di Jakarta,
keluarga dan sahabat.