Sunday, April 2, 2017

Aku rindu bertemu dia.
Tapi keberanian menghilang ketika dia didepan mata.

Aku ingin berbincang dengannya.
Tapi nyali untuk menyapa saja tak ada.

Selalu coba beranikan diri untuk merespon.
Tapi gugup selalu ikut campur dan mengacaukan semuanya.

Aku tidak berani berada didekatnya,
takut kalau dia mendengar degup jantung ini,
 yang iramanya sangat cepat tak beraturan ketika dihadapannya.

Aku melemah.
Seketika tak tahu menenangkan diri.


Aku terdiam.
Berusaha memahami keadaan.

Jangan bertanya,
karna aku sendiri pun masih belum tahu jawabannya.
Tapi jangan pula cepat mengambil konklusi,
salah-salah nanti malah pahit.

Thursday, January 5, 2017

Jakarta.

Macet.
Sibuk.
Ribut.
Penuh.
Panas.
Penat.


Aku rindu terjebak ditengah kemacetan kota Jakarta,
merasa memiliki ruang untuk berpikir sejenak sebelum sampai tujuan,
guna mengulur waktu menuju tempat yang tidak diingini.


Aku rindu keributan kota Jakarta.

Orang-orang sibuk didalamnya,
ya yang sebenarnya kebanyakan dari mereka hanya berusaha mencari kesibukan.
Berusaha mencari sebanyak mungkin kegiatan upaya melupakan kepahitan.
Menjadikan semua itu pelampiasan,
tanpa mereka sadar yang mereka lakukan hanyalah penyiksaan terhadap diri mereka sendiri,
kali ini pembodohan menjadi pilihan favorit. Pembodohan pada diri sendiri.
Semua berlomba berlari dari kenyataan,
mencapai garis akhir yang semu, hampir tidak ada,
sampai kapan pun tak ada satu pun yang berhasil menjadi pemenang.

Untunglah masih ada kalangan sehat,
yang terus berusaha mengejar mimpi mereka.
Para pemimpin hebat di masa depan.
Berlomba untuk menggapai mimpi,
mengambil aksi dengan berani,
guna mencapai garis akhir yang sudah pasti.


Aku rindu setiap sudut kota Jakarta,
selalu berhasil membuat cerita,
yang sekarang ku sebut kenangan.


Aku rindu mereka yang ada di Jakarta,
keluarga dan sahabat.